TIME

Selasa, 08 November 2011

Jejak Kaki Raksasa di Kinilow Diduga Peninggalan Manusia Purba







Jejak kaki berukuran raksasa (panjang 74 cm) pada sebuah batu yang ditemukan di wilayah perkebunan Mo’mo Kinilow I, Kota Tomohon, diduga meru-pakan peninggalan manusia purba dari zaman megalitikum (batu). Pasalnya, batu tempat jejak kaki itu ‘diukir’ meru-pakan batu dakon yang identik dengan era kebudayaan mega-litikum (zaman batu besar).

“Batu dakon ini banyak dite-mukan di sejumlah situs prase-jarah. Batu dakon ini ada pada zaman megalitik, di mana pada waktu itu belum ditemukan ada-nya tulisan. Sedangkan fung-sinya sebagai alat pemujaan di mana masyarakatnya masih mempercayai akan batu besar yang memiliki kekuatan,’’ ungkap Dra Ipak Fahriani, Koordinator Tim Peneliti dari Balai Arkeologi Manado Wila-yah Sulut, Sulteng dan Goron-talo.
Fahriani sendiri datang ber-sama tiga peneliti arkeologi lainnya di Kinilow, kemarin (02/08). Mereka turut didampingi Pemkot Tomohon yang dipim-pin Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Drs Gerardus Mogi bersama sejumlah staf yang khusus turun melihat dari dekat penemuan bernilai seja-rah penting ini.
Lebih lanjut dikatakannya, Balai Arkeologi hanya berwe-nang untuk membuktikan seca-ra fisik hasil temuan tersebut. “Kita pembuktian fisiknya saja dari temuan ini. Sementara yang
berhak menentukan itu apa, ada pada Balai Pelestarian Pening-galan Purbakala (BP3). Sedang-kan untuk pembuktian dan penelitian awal, memang di tempat ini banyak terdapat bu-daya megalitik. Kondisi ling-kungan di sini juga ikut me-nunjang,” ungkapnya sembari menambahkan bahwa untuk cerita rakyat yang berkembang bisa saja sinkron dengan hal ini.
Namun diakui pihaknya bahwa temuan di Kinilow ini merupakan situs budaya peninggalan ar-keologi. “Penemuan ini memang seperti telapak kaki yang memang dibuat oleh manusia. Tapi untuk membuktikan ini jejak kaki atau bukan, kita harus membuktikan lewat penelitian lebih lanjut dan secara ilmiah. Oleh sebab itu, kita akan mengagendakan penelitian selanjutnya, tentu bekerja sama dengan Pemkot Tomohon dan BP3,” tukas wanita yang sudah menetap di Manado sejak 18 tahun lalu ini.
“Karena ini termasuk dalam situs budaya, maka kami me-minta kepada Pemkot Tomohon dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk menjaga dan merawat tempat ini. Jangan sampai rusak, punah atau hi-lang,” tambahnya.
Di tempat yang sama, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pari-wisata Pemkot Tomohon Drs Gerardus Mogi mengatakan, pihaknya akan memberikan perhatian terhadap temuan jejak kaki raksasa di atas batu dakon ini. “Hal ini akan langsung kita teruskan kepada Walikota Tomo-hon, sehingga beliau tahu bahwa telah ditemukan lagi satu situs baru di Kota Tomohon. Kemu-dian kita juga akan membe-ritahukan kepada pihak Dinas Pekerjaan Umum agar dalam penggusuran jalan yang sedang dilakukan hendaknya jangan sampai merusak tempat ini,” jelas Mogi.
Dijelaskan Mogi, Kota Tomohon memang menyimpan begitu banyak jejak arkeologi, baik yang sudah ditemukan dan yang be-lum. “Kalau memang yang dite-mukan atau situs ini adalah suatu budaya, tentunya akan kita pelihara dan kembangkan. Yang pasti situs ini akan kita masukkan sebagai situs budaya. Hanya saja untuk ke arah itu , masih memer-lukan proses panjang. Sebab, kita juga harus menunggu hasil pene-litian,” ungkap Mogi.
Tak itu saja, Mogi juga akan berupaya melakukan koordinasi dengan pemerintah setempat dan masyarakat yang ada. “Hal ini sangat penting, agar pemba-ngunan jalan Kali-Kinilow yang saat ini tengah dilakukan, tidak sampai mengganggu situs. Untuk itu, kami akan mengajak ma-syarakat untuk turut meles-tarikannya,” katanya.
Selain itu, Mogi juga menga-takan bahwa Pemkot Tomohon, sangat intens memelihara situs yang ada. Bahkan untuk mela-kukan perawatan, tepatnya pada dua tahun lalu, pemerintah te-lah mengucurkan dana sekitar Rp 1 miliar, masing-masing untuk pelestarian situs Tumotoa di Tinoor, veldbox di Tinoor dan waruga yang terdapat di 144 titik. “Dananya dibagikan untuk peles-tarian waruga, gereja Sion dan masjid Nurul Iman di Kampung Jawa,” tukasnya sembari me-nambahkan bahwa Tomohon banyak memiliki situs, hanya saja, sebagian besar terdapat di tempat-tempat pribadi atau pemukiman. “Karena itu, kami meminta masyarakat untuk ikut memeliharanya,” ujarnya.
Sementara itu, menurut keper-cayaan masyarakat setempat, di antaranya Yuno Rumondor dan Yunius Burami mengatakan, telapak kaki kiri raksasa di batu dakon itu milik Siouw Kurur atau yang biasa disebut Sem-bilan Buku. “Yang ada di batu ini telapak kaki kiri. Sedangkan satunya ada di jalan lahar Ki-nilow I. Itu menandakan bahwa yang memiliki kaki tersebut memiliki kecepatan berlari,” pungkas me-reka

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar